Saatnya BPKS Rambah Industri Majukan Sabang

Saatnya BPKS Rambah Industri Majukan Sabang

Kolase foto dermaga BPKS Sabang dan peta Pulau Weh (Sabang)

KOMISI VI DPR RI melakukan rapat dengar pendapat dengan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Jumat (28/2/2020). Dalam pertemuan itu DPR meminta agar BPKS fokus mengembangkan kawasan industri Sabang dan menghidupkan kembali pelabuhan bebas agar perekonomian masyarakat Aceh bisa meningkat.

Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia kemarin, Ketua Tim Komisi VI Muhammad Haikal mengatakan, dengan berjalannya Pelabuhan Bebas Sabang maka taraf ekonomi masyarakat Sabang khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya dapat ditingkatkan sehingga bisa mengurangi persentase jumlah kemiskinan di Aceh.

Menurutnya, sudah saatnya BPKS membuat program kerja yang terarah dan fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya menekankan agar BPKS menghidupkan kembali pelabuhan bebas dan DPR RI siap untuk mendukungnya. Muhammad Haikal mengatakan, pihaknya akan terus mendorong pemerintah pusat beserta stakeholder terkait untuk bersama-sama mewujudkan Pelabuhan Bebas Sabang sebagai salah satu sarana untuk mendongkrak perekonomian rakyat Aceh.

Hal senada juga disampaikan anggota Komisi VI DPR RI asal Aceh, Rafli. Menurutnya, saat ini BPKS masih membutuhkan banyak pembenahan dalam mewujudkan kawasan Pelabuhan Bebas Sabang sebagai pelabuhan internasional. Masih banyak yang harus dibenahi oleh BPKS. Selain program kerja, lanjut Rafli, membangun hubungan kerja dengan stakeholder terkait juga penting dalam mewujudkan Pelabuhan Bebas Sabang yang layak dan modern.

Dalam rapat dengar pendapat itu juga hadir anggota komisi VI lainnya, yakni Tommy Kurniawan, Sondang Tiar, Trifena dan lainnya. Sedangkan dari BPKS hadir Plt Kepala dan Plt Kepala BPKS, Lazuardi Ibrahim MT dan Islamuddin ST juga beberapa deputi. Nah, topik yang diperbincangkan dalam pertemuan antara Komisi VI DPR RI dengan pihak BPKS tersebut sungguh merupakan isu penting dan menarik. Terutama jika dikaitkan dengan fakta bahwa sepanjang disahkannya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, belum terlihat hal-hal yang menakjubkan di Sabang terkait statusnya yang “serbabebas” itu.

Sedianya, rencana kerja yang dirancang untuk kota yang berstatus sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan (freeport) haruslah jelas dan terukur indikator pencapaiannya. Juga harus jelas apa yang menjadi program prioritasnya.

Selama ini, terutama sejak BPKA dipimpin oleh Fauzi Husin, publik hanya tahu bahwa sektor pariwisata yang dikembangkan oleh Pemko Sabang menjadi prioritas bagi BPKS untuk mendukungnya. Khusus untuk sektor pariwisata kita harus akui bahwa Sabang tergolong destinasi wisata yang semakin dikenal oleh masyarakat dunia, namun fasilitas pariwisatanya belum cukup memuaskan. Untuk itu, sebelum BPKS merambah ke sektor industri, sebagaimana disarankan oleh Komisi VI DPR RI, maka sektor pariwisata di Kota Sabang harus benar-benar dioptimalkan. Baik dari aspek promosi, penambahan prasarana dan sarana, pelayanan hingga aspek amenitasnya.

Untuk mengembangkan industri di Sabang haruslah dilakukan kajian mendalam guna memastikan industri apa yang paling tepat dikembangkan di pulau tersebut. Industri yang dikembangkan sebaiknya adalah industri yang terkait dengan potensi Sabang sebagai wilayah perikanan tangkap. Untuk itu, industri pengalengan ikan termasuk salah satu industri yang tepat dikembangkan di Sabang. 

Berikutnya adalah industri rotan serta galangan kapal. Selain itu, di Sabang tepat juga dikembangkan industri pengolahan tepung ketan yang ketannya bisa diimpor dari Thailand.
Setelah diolah menjadi tepung tentunya bisa dimasukkan ke daratan Aceh. Hallainnya yang sangat relevan dikembangkan di Sabang adalah menjadikan Sabang sebagai sentra pengolahan material bangunan berupa batu olahan maupun batu bata yang bisa dijual
ke Sri Lanka dan Nikobar. Pendeknya Sabang harus menjadi lokomotif perekonomian Aceh terutama dalam kaitannya dengan konektivitas Aceh-India.

Letak Sabang yang sangat strategis di pintu gerbang Selat Malaka harus bisa dimanfaatkan sedemikian rupa agar memberi sebesar-besarnya manfaat bagi pertumbuhan perekonomian
Aceh yang dalam lima tahun terakhir memiliki angka kemiskinan tertinggi di Sumatera.

Editor: hasyim
Sumber: Serambi Indonesia

Artikel ini telah tayang di
aceh.tribunnews.com
Dengan judul
Saatnya BPKS Rambah Industri Majukan Sabang

Tinggalkan komentar