Dua Kapal Cepat tak Lagi Operasi

KETUA Pansus,I DPRA, H T Ibrahim bersama pihak Dishub Pelabuhan Ulee Lheu, melihat Kapal Pulo Rondo sudah tiga tahun dibiarkan rusak, tanpa ada perbaikan dari Pemerintah Aceh.

* Lima Tahun Dibiarkan Rusak

BANDA ACEH – Dua kapal cepat yang pernah berjasa menghidupkan pariwisata Sabang, Pulo Rondo dan Pulo Deudap, dalam beberapa tahun terakhir sudah tak terlihat lagi wara-wiri di lintas Banda Aceh-Sabang. Pasalnya kedua kapal tersebut kini dalam kondisi rusak dan tidak kunjung diperbaiki.

Kapal Pulo Rondo milik Kementerian Perhubungan kini ‘terkulai’ di dermaga Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh. Kapal ini sudah lima tahun tak beraktivitas. Nasib serupa juga terjadi pada kapal cepat Pulo Deudap milik Pemerintah Aceh. Kapal ini juga sudah hampir lima tahun berhenti beroperasi karena tak kunjung diperbaiki. Pulo Deudap kini berposisi di di dermaga Pelabuhan BPKS Sabang.

Ketua Pansus I DPRA, HT Ibrahim, baru-baru ini meninjau lokasi sandar kapal Pulo Rondo di Pelabuhan Ulee Lheue. Kepada Serambi dia mengatakan, sejak melakukan Pansus APBA pada tahun 2014 sampai 2019, kapal Pulo Rondo ini masih tetap belum diperbaiki dan difungsikan oleh Pemerintah Aceh. Padahal, ujarnya, kapal itu sudah sangat berjasa untuk memajukan industri Pariwisata di Kota Sabang.

Kapal Pulo Rondo dibuat pada awal 2002 itu dengan menelan anggaran pusat Rp 22 miliar lebih. Dua tahun kemudian, kapal tersebut dioperasikan. Sejak beroperasi, ungkap Ketua Fraksi Partai Demokrat ini, minat masyarakat lokal dan wisatawan melancong ke Sabang sangat tinggi. Pasalnya, waktu tempuh perjalanan dari Banda Aceh ke Sabang hanya butuh waktu 45 menit. Jika menggunakan kapal lambat atau feri, waktu tempuh mencapai 2 jam.

Untuk mengatasi lonjakan penumpang naik kapal cepat, Pemerintah Aceh memprogramkan pembangunan satu unit lagi kapal cepat yang diberi nama Pulo Deudap. Kapal ini dibuat tahun anggaran 2006 dan selesai tahun 2008. Anggaran pembuatannya Rp 21 miliar. Kapal ini diserahkan kepada BPKS untuk mengelolanya, tapi sampai kini, belum juga difungsikan. Apa sebabnya, pihak Dewan belum menerima informasi yang jelas dari Dishub Aceh. Guna menindaklanjuti temuan itu. “Sebagai anggota Komisi IV DPRA yang membidangi perhubungan, saya akan mengusulkan kepada Ketua Komisi untuk memanggil Dishub Aceh,” katanya kepada Serambi, Selasa (16/7).

Menelantarkan dua kapal milik pemerintah, kata Ibrahim, sama artinya Pemerintah telah melukai perasaan masyarakat. Masyarakat di daerah lain sangat mengiginkan ada kapala cepat yang beroperasi. Mereka ingin naik kapal cepat, tapi pemerintah tidak mampu memfungsikan aset yang sudah untuk membahagian rakyatnya.

Dikatakan, pihaknya sudah pernah mengundang pihak swasta yang bisa memperbaiki kapal cepat yang rusak. Pihak swasta tersebut sudah menghitung biaya perbaikan sebesar Rp 7 miliar. “DPRA juga sudah pernah menyetujui anggaran perbaikan kapal Pulo Rondo itu, tapi sampai kini belum dilaksanakan Dishub Aceh, dengan berbagai alasan, diantarnya karena ada regulasi baru terkait pengelolaan aset negara dan daerah,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Aceh Ir Junaidi melalui Kabid Pelayaran Dishub Aceh, Ir Mahyus Syafril mengatakan, kapal Cepat Pulo Rondo belum diperbaiki sejak rusak tahun 2014 lalu, karena dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2014 tentang pengelolaan barang Milik Negara/Daerah dan Permendagri Nomor 19 tahun 2016 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah, aset pusat yang belum diserahkan kepada Pemerintah daerah, belum bisa dikelola.

Setelah Presiden menerbitkan surat hibah kapal Pulo Rondo untuk Pemerintah Aceh, baru Dishub Aceh mengajukan anggaran perbaikan kapal cepat itu. Penjelasana yang serupa juga disampaikan, Sekretaris Dishub Aceh, Ir Faisal. “Kita sudah usul proses hibahnya ke Jakarta, tapi sampai kini penerbitan surat hibahnya dari presiden belum turun,” ujarnya.

Untuk kapal Pulo Deudap, kata Mahyus Syafril, masih berapa di BPKS. Pada saat diserahkan ke BPKS tahun 2014, kondisi mesinnya sedang rusak dan BPKS diminta untuk memperbaikinya dan memungsikannya kembali untuk jalur Balohan-Ulee Lheue.(her)

Berita ini dikutip disini