BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG
Management Board of Sabang Free Port and Free Trade Zone

Potensi

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang dibatasi oleh titik-titik koordinat 05°46′28″ - 05°54′28″ Lintang Utara (LU) dan 95°13′02″ - 95°22′36″ Bujur Timur (BU). Letak ini memberikan keuntungan geografis karena terletak pada persimpangan pelayaran dan perdagangan dunia, yaitu Selat Malaka.
Selat Malaka sendiri adalah sebuah selat yang terletak di antara Semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia, Singapura) dan Pulau Sumatra (Indonesia). Dari segi ekonomi dan sisi strategis, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran vital di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez di Mesir dan Terusan Panama di Amerika Selatan. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan Republik Rakyat Cina (RRC). Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya, mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia. Sebanyak setengah dari minyak yang diangkut oleh kapal tanker melintasi selat ini; pada 2015, jumlah itu diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak per hari, suatu jumlah yang dipastikan akan meningkat mengingat besarnya permintaan dari negeri Tiongkok. Oleh karena lebar Selat Malaka hanya 1,5 mil laut pada titik tersempit, yaitu Selat Phillips dekat Singapura, ia merupakan salah satu dari kemacetan lalu lintas terpenting di dunia.
Selat Malaka merupakan perairan di kawasan Asia Tenggara yang menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Selat Malaka terletak di antara Pulau Sumatra dan Semenanjung Melayu. Oleh karena itu selat ini di sebut sebagai jalur pelayaran internasional, beberapa negara menggunakan selat ini sebagai jalur perlintasan kapal pengangkut bahan bakar dan bahan industri serta perdagangan melalui kapal kargo berukuran raksasa.
Kapal-kapal kontainer raksasa yang berisi beragam jenis barang perdagangan dan industri saban hari silih berganti melintasi Selat Malaka tanpa henti. Sama halnya juga dengan kapal kargo yang mengangkut minyak mentah maupun cairan lainya. Pergerakan kapal-kapal ini bisa dilihat langsung secara kasat mata di Sabang melalui wilayah Sabang Fair, Pantai Paradiso, Ie Meule, Anoi Itam, Tapak Gajah dan sekitarnya. Namun setelah era kejayaan pelabuhan Sabang berakhir, kapal ini tidak sekalipun singgah di Pelabuhan CT-3 di Teluk Sabang karena beberapa faktor regulasi, meski draf kedalaman air CT-3 sudah memenuhi standar internasional, dalam arti sudah sangat layak dilabuh kapal berbobot besar.
Kondisi mutakhir Kawasan Selat Malaka yang terus menggeliat dari tahun ke tahun ini menjadi catatan khusus bagi BPKS Sabang dalam menentukan arah strategi Kawasan Sabang. Potensi-potensi besar yang ada baik dalam internal (Pulau Weh dan Pulo Aceh) serta potensi eksternal (Selat Malaka), patut menjadi perhatian dalam langkah strategis Pembangunan Kawasan Sabang secara menyeluruh.

▷ DEMOGRAFIS
Secara demografi, Kawasan Sabang memiliki luas sebesar 394 Km². Kota Sabang sendiri luasnya 153 Km²; dan Pulo Aceh memiliki luas 241 Km². Jumlah penduduk Kawasan Sabang dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan yang relatif konstan, jumlah penduduk pada tahun 2013 sebesar 32.191 jiwa dan pada tahun 2016 sebesar 34.166 jiwa dengan peningkatan laju pertumbuhannya rata-rata sebesar 1,5 % per tahun.
Sementara pada sensus penduduk tahun 2016, penduduk Sabang sudah berjumlah 33,622 jiwa yang terdiri atas 16,9891 jiwa laki-laki dan 16,641 jiwa perempuan. Proyeksi penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kelahiran-kematian, migrasi, kegiatan ekonomi kota dan ketersediaan lahan.

▷ GEOGRAFIS
Secara geografis, Kawasan Sabang terletak pada posisi geografis 05°46′28″ - 05°54′28″ Lintang Utara (LU) dan 95°13′02″ - 95°22′36″ Bujur Timur (BU), terdiri atas Kota Sabang (Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako dan Pulau Rondo) dan Kecamatan Pulo Aceh (Pulau Breuh, Pulau Nasi dan Pulau Teunom) Kabupaten Aceh Besar serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Luas wilayah Kawasan Sabang adalah 393.1 Km² yakni Kota Sabang 153 Km² dan Pulo Aceh 240.1 Km², dengan batasan wilayah:
 Sebelah Utara : Selat Malaka
 Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
 Sebelah Timur : Selat Malaka
 Sebelah Barat : Samudera Indonesia

Adapun kondisi topografi Kawasan Sabang terdiri atas:
Kota Sabang:
 Dataran Rendah (elevasi 0-8 %) : 3,11 %
 Bergelombang (elevasi 8-15 %) : 10,00 %
 Berbukit (elevasi 15-40 %) : 39,04 %
 Pegunungan (elevasi > 40 %) : 47,85 %
Pulo Aceh:
 Dataran Rendah (elevasi 0-8 %) : 33,95 %
 Bergelombang (elevasi 8-40 %) : 28,60 %
 Pegunungan (elevasi > 40 %) : 37,44 %

Suhu rata-rata di Kota Sabang 25,208 °C, kelembaban udara rata-rata 81,75 %, tekanan udara rata-rata 1,010.908 mb, dan kecepatan angin rata-rata 8.083 knot. Sedangkan suhu rata-rata di Pulo Aceh 26,90 °C dengan ketinggian rata-rata 700 m (dpl).
Dengan luas sekitar 153 Km², Pulau Weh merupakan pulau yang memiliki topografi dengan mayoritas daerah pegunungan dan berbukit. Pantai yang dimiliki Pulau Weh umumnya pantai yang tinggi dan curam dengan kedalaman laut secara alami cukup dalam. Kemiringan lebih dari 25 % di Kota Sabang hampir meliputi 40 % luas kota. Di daerah Pulau Weh bagian barat dan di tengah-tengah pulau bagian timur merupakan daerah yang berbukit dan bergelombang dengan kemiringan lebih dari 15 %. Artinya wilayah Pulau Weh terdiri dari: 47,85 % daerah bergunung (2.434 Ha), 39,04 % daerah berbukit (7.861 Ha), 10 % dataran bergelombang (1.560 Ha) dan 3,11 % dataran rendah (445 Ha). Dengan melihat persentase dataran rendah di Kota Sabang maka terlihat bahwa kondisi Kota Sabang yang datar relatif terbatas, yakni hanya di sekitar pantai. Kawasan Pelabuhan Sabang sendiri memiliki topografi yang relatif datar di sepanjang pantai Teluk Sabang yang membentang dari arah timur ke barat. Sementara kira-kira sejauh 2 Km ke arah utara, topografi kawasan telah mulai berbukit-bukit.
Kecamatan Pulo Aceh dengan luas sekitar 241 Km² terletak pada wilayah paling Barat NKRI yang berjarak 15 mil laut dari Kota Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Dari kondisi topografinya, wilayah kecamatan Pulo Aceh ini pun merupakan daerah pegunungan dengan lereng yang terjal (kemiringan > 40 %) yakni sekitar 37,44 % (9.014 Ha), wilayah yang relatif datarnya (kemiringan 0-8 %) sekitar 33,96 % (8.176 Ha), sedangkan wilayah berbukit (kemiringan 8-40 %) sekitar 28,60 % (6.885 Ha). Dari kondisi tersebut di atas, terlihat bahwa Kawasan Sabang secara keseluruhan memiliki keterbatasan sehingga secara fisik upaya untuk pembangunan infrastruktur wilayah menjadi relatif sulit, harga lahan yang mahal serta membutuhkan biaya investasi yang tinggi.
Apalagi penggunaan lahan di Kota Sabang sampai saat ini masih didominasi oleh lahan hutan (53,80 %), terutama hutan lindung dan produksi serta cagar alam. Sedangkan pemanfaatan lahan yang lain sangat bervariasi, seperti untuk perkebunan, sawah, ladang sekitar 36.58 %, permukiman 6.76 % dan kawasan khusus (pelabuhan dan bandara) sekitar 0.7 %. Sebagaimana halnya penggunaan lahan di Kota Sabang, lahan yang ada di Pulo Aceh juga didominasi oleh hutan dan kebun (masing-masing sekitar 40 %). Sedangkan lahan permukiman hanya sekitar 1 %. Permukiman ini banyak terdapat di sekitar Lampuyang sebagai ibukota kecamatan dan sepanjang pantai. Dengan demikian pengembangan permukiman masih berpotensi besar mengingat daerah yang meliputi dataran masih banyak belum dimanfaatkan.
Sementara itu penggunaan lahan untuk Kawasan Sabang di estimasi kan untuk mengakomodir penduduk yang diproyeksikan berjumlah 682.556 jiwa dengan berbagai jenis lahan peruntukan sebagai kegiatan penduduk dibidang jasa kepelabuhanan, industri dan perdagangan, pariwisata dan perikanan. Perkiraan total lahan bagi permukiman yang diperlukan adalah sekitar 2.440 Ha yang terbagi untuk Kota Sabang 1.962 Ha, dan Kecamatan Pulo Aceh sekitar 478 Ha. Asumsinya lahan permukiman di Kota Sabang sebagian besar akan menggunakan lahan kosong dari lahan hutan belukar dan dari lahan padang rumput yang ada saat ini, sedangkan di Kecamatan Pulo Aceh sebagian besar akan menggunakan lahan kosong dari lahan hutan belukar dan hutan ilalang.